Untuk membangun budaya perusahaan, Ini yang perlu diperhatikan seorang leader

Memasuki era globalisasi dan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang berdampak pada tingkat persaingan yang semakin ketat, hal ini menuntut perusahaan dari berbagai jenis industri dan jasa untuk meningkatkan kinerjanya agar dapat bertahan dalam kompetisi yang ketat. Salah satu cara yang cukup efektif adalah dengan membangun budaya perusahaan yang unggul sehingga hal tersebut bisa menjadi entitas perusahaan dalam menghadapi situasi perekonomian yang tidak menentu. Budaya perusahaan memegang peran penting dalam pengembangan organisasi dan pengambilan kebijakan strategis dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Budaya perusahaan menjadi identitas semua elemen perusahaan yang membuat perusahaan tersebut memiliki warna yang berbeda dibandingkan perusahaan lain.

Membangun budaya perusahaan yang unggul memiliki tantangan tersendiri. Hal ini merupakan pekerjaan besar bagi semua elemen yang ada. Semua elemen di perusahaan berperan penting untuk dapat mengimplementasikan nilai-nilai positif ke dalam aktivitas kerja sehari-hari. Proses yang harus dijalani tidak mudah, apalagi masing-masing individu di dalam organisasi sudah memiliki nilai individu yang sudah mengakar di lingkungan kerjanya. Untuk menyikapi hal ini, perusahaan harus berani mengambil sikap dan tindakan yang massif dengan menyediakan dana dan menginvestasikan setiap individu untuk berkesempatan belajar.

“Seorang leader memegang peranan penting sebagai agen perubahan untuk melakaukan internalisasi dan implementasi nilai-nilai budaya perusahaan dengan massif.”

Dalam membangun budaya yang unggul, setiap individu yang ada di perusahaan haruslah berperan serta. Di sisi lain, seorang leader memegang peranan penting sebagai agen perubahan untuk melakaukan internalisasi dan implementasi nilai-nilai budaya perusahaan dengan massif. Dalam semua aspek kegiatan yang ada di perusahaan perlu sekali mencerminkan budaya perusahaan sebagai ciri khas atau pembeda dari kompetitor. Seorang leader perlu memberikan contoh tindakan dan perilaku konkrit yang mencerminkan nilai-nilai budaya perusahaan. Bila hal ini dilakukan dengan konsisten hal ini akan memberikan pengaruh besar kepada jajaran yang ada di bawahnya. Dibutuhkan komitmen dan sikap yang konsisten dalam menjalani proses pembangunan budaya unggul secara berkelanjutan. 

Dalam membangun budaya, peranan seorang leader akan berbeda pada saat organisasi baru dibentuk dibandingkan pada saat organisasi sudah mulai “menua”. Ada beberapa fase yang terjadi dalam pembentukan budaya dimana peran masing-masing leader cukup signifikan antara lain:

  • Fase Pendirian: Leader sebagai Penggerak Organisasi. Pada masa awal organisasi berdiri, fungsi seorang leader adalah memberikan pasokan energy yang dibutuhkan supaya organisasi dapat “lepas landas”. Peran yang sering kali dianggap penting adalah memberikan visi, arah dan tujuan kemana organisasi menuju. Leader berperan sebagai pusat penggerak seluruh organisasi.
  • Fase Pembentukan: Leader sebagai Pencipta Budaya. Ketika organisasi sudah berjalan dan memiliki SDM yang potensial, peran leader dalam membangun budaya bisa melalui tiga cara yaitu hanya merekrut orang-orang yang memiliki nila-nilai dan visi yang sama dengan perusahaan; mengkomunikasikan, mensosialisasikan serta melakukan indoktrinasi kepada jajaran dibawahnya tentang nilai-nila, cara berpikir dan bertingkah laku yang diinginkan; memberikan contoh kepada bawahannya bagaimana seharusnya berpikir dan bertingkah lau sehingga para bawahannya akan mengikuti dan menginternalisasikan nilai-nilai yang dianut leadernya. Sikap konsistensi antara apa yang dikatakan dan diharapkan dengan apa yang dilakukan menjadi hal yang krusial. 
  • Fase Pemeliharaan: Leader sebagai Pemelihara Budaya. Seringkali sebuah organisasi mengalami kegagalan karena lalai mempetahankan competitive edge-nya. Kegagalan seorang pemimpin pendiri sering kali terjadi pada masa ini, dimana ia tidak berhasil menciptakan para pemimpin penerus, yang mampu memelihara budaya organisasi yang telah terbentuk.
  • Fase Perubahan: Leader sebagai Agen Perubahan. Kegagalan sering kali juga terjadi karena para leader tidak dapat beradaptasi dan mengikuti cepatnya perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Prinsip dan nilai-nilai yang secara kaku diterapkan, budaya yang solid terbentuk, sering kali justru membawa malapetaka pada saat prinsip, nilai dan budaya yang dianut sudah tidak sesuai lagi dengan perubahan zaman. Leader pada sebuah organisasi yang sudah “mature” harus terus-menerus mengevaluasi, apakah nilai dan budaya yang dianut masih mendukung pada saat perubahan terjadi. Perubahan nilai dan budaya justru harus dimulai dari sang pemimpin. Leader menjadi orang pertama dan yang paling ingin untuk berubah. Ia adalah orang yang berdiri di garis paling depan upaya perubahan. Seorang pemimpin perubahan.

Dengan demikian, unsur dari budaya adalah nilai-nilai dasar yang telah disepakati bersama yang menjadi pondasi dari perusahaan tersebut dan menjadi identitas dari setiap individu yang ada di perusahaan. Setiap individu memiliki nilai pribadi yang bisa saja sama ataupun berbeda dengan nilai yang telah disepakati di perusahaan. Untuk itu perlu sekali dilakukan pemetaan yang akurat terhadap karakteristik leader yang ada di tiap unit yang ada di perusahaan sehingga dalam mengimplementasikan budaya yang unggul bisa berjalan dengan lancar tanpa ada konflik tajam terkait dengan adanya perubahan. Dalam hal ini leader berperan sebagai implementor dan katalisator dalam membangun budaya perusahaan. Leader memberikan peranan yang penting untuk menjadi panutan yang bisa diteladani oleh jajaran dibawahnya dalam menerapkan nilai-nilai budaya perusahaan yang ada.

Disarikan dari buku:

Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan

Penulis: Prof. Dr. H. Veithzal Rivai, M.B.A.,dkk.